Saturday, March 10, 2012
Friday, March 9, 2012
waterfall paradise: Banta Seudang
waterfall paradise: Banta Seudang: Banta Seudang adalah putra Raja Kerajaan Aceh. Ia bersama ayah dan ibunya dicampakkan oleh Pakciknya sendiri, karena ayahnya buta dan t...
waterfall paradise: Radiasi Akibat Badai Matahari Aman bagi Manusia
waterfall paradise: Radiasi Akibat Badai Matahari Aman bagi Manusia: jakarta - Badai Matahari yang berlangsung pada Selasa, 24 Januari 2012, pukul 10.59 WB adalah yang terkuat sejak tahun 2005. Meski para a...
Asal Usul Tari Guel
Setelah gagal menemukan layang-layang mereka, barulah mereka teringat akan itik-itik mereka. Tetapi malang, itik-itik itu tak lagi nampak. Mereka pun pulang dengan ketakutan akan mendapat marah dari orangtua mereka.
Benar juga apa yang mereka pikirkan. Setiba di rumah, mereka dimarahi ayah mereka. Mereka juga disuruh mencari itik-itik itu, dan tak diizinkan kembali sebelum itik-itik yang hilang itu ditemukan kembali.
Berhari-hari bahkan berbulan-bulan mereka berjalan mencari itik mereka, tapi tak membawa hasil hingga akhirnya mereka tiba di Kampung Serule. Dengan tubuh yang lunglai mereka menuju ke sebuah meunasah/langgar dan tertidur lelap. Pagi harinya mereka ditemukan oleh orang kampung dan dibawa menghadap ke istana Raja Serule. Di luar dugaan, mereka malah diangkat anak oleh baginda raja.
Beberapa waktu berlalu, rakyat Serule hidup makmur, aman, dan sentosa. Hal ini dikarenakan oleh kesaktian kedua anak tersebut. Kemakmuran rakyat Serule itu membuat Raja Linge iri dan gusar, sehingga mengancam akan membunuh kedua anak tersebut. Malang bagi Muria, ia berhasil dibunuh dan dimakamkan di tepi Sungai Samarkilang, Aceh Tenggara.
Pada suatu saat, raja-raja kecil berkumpul di istana Sultan Aceh di Kutaraja. Raja-raja kecil itu mempersembahkan cap usur, semacam upeti kepada Sultan Aceh. Saat itu, Cik Serule datang bersama Sangede. Saat itu, Raja Linge juga hadir. Saat Raja Serule masuk ke istana, Sangede menunggu di halaman istana.
Sambil menunggu ayah angkatnya, Sangede menggambar seekor gajah yang berwarna putih. Rupanya lukisan Sangede ini menarik perhatian Putri Sultan yang kemudian meminta Sultan mencarikan seekor gajah putih seperti yang digambar oleh Sangede.
Sangede kemudian menceritakan bahwa gajah putih itu berada di daerah Gayo, padahal dia sebenarnya belum pernah melihatnya. Maka, saat itu juga Sultan memerintahkan Raja Serule dan Raja Linge untuk menangkap gajah putih tersebut guna dipersembahkan kepada Sultan. Raja Serule dan Raja Linge benar-benar kebingungan, bagaimana mungkin mencari sesuatu yang belum pernah dilihatnya.
Sangede menyesal karena bercerita bahwa gajah putih itu ada di Gayo hingga ayah angkatnya mendapat tugas mencarinya. Dalam kebingungan itu, suatu malam Sangede bermimpi bertemu dengan Muria yang memberitahu bahwa gajah putih itu berada di Samarkilang, dan sebenarnya gajah putih itu adalah dirinya yang menjelma saat dibunuh oleh Raja Linge.
Pagi harinya, Sangede dan Raja Serule yang bergelar Muyang Kaya pergi ke Samarkilang seperti perintah dalam mimpi Sangede. Benar juga, setelah beberapa saat mencari, mereka berdua menemukan gajah putih itu sedang berkubang di pinggiran sungai.
Sangede dan Raja Serule Muyang Kaya kemudian dengan hati-hati mengenakan tali di tubuh gajah yang nampak penurut itu. Tetapi saat akan dihela, gajah putih itu lari sekuat tenaga. Raja Serule dan Sangede tak mampu menahannya. Mereka hanya bisa mengejarnya hingga suatu saat gajah itu berhenti di dekat kuburan Muria di Samarkilang.
Anehnya, gajah putih itu berhenti seperti sebongkah batu. Tak bergerak sedikit pun meski Sangede dan Raja Serule mencoba menghelanya. Berbagai cara dicoba oleh Sangede agar gajah putih itu mau beranjak dan menuruti perintahnya untuk diajak pergi ke istana Kutaraja. Tetapi, semuanya sia-sia.
Sangede kehabisan akal. Akhirnya, dia bernyanyi-nyanyi untuk menarik perhatian gajah putih. Sambil bernyanyi, Sangede meliuk-liukkan tubuhnya. Raja Serule ikut-ikutan menari bersama Sangede di depan gajah putih agar mau bangkit dan menuruti perintahnya. Di luar dugaan, gajah putih itu tertarik juga oleh gerakan-gerakan Sangede, dan kemudian bangkit. Sangede terus menari sambil berjalan agar gajah itu mengikuti langkahnya. Akhirnya, gajah itu pun mengikuti Sangede yang terus menari hingga ke istana. Tarian itu disebutnya tarian Guel hingga sekarang.
Sangede menyadari bahwa sesuatu ajakan kepada seseorang atau kepada binatang tidaklah harus dengan cara yang kasar. Dengan sebuah tarian pun akhirnya gajah putih itu menuruti ajakannya.
penulis : I made gowinda jayasapta
Banta Seudang
Banta Seudang adalah putra Raja Kerajaan Aceh. Ia bersama ayah dan ibunya dicampakkan oleh Pakciknya sendiri, karena ayahnya buta dan tidak dapat lagi melaksanakan tugas-tugas kerajaan. Suatu ketika, Banta Seudang pergi merantau untuk mencari obat mata untuk ayahnya dengan harapaan dapat kembali menjadi raja. Berhasilkah Banta Seudang menemukan obat mata untuk ayahnya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Banta Seudang berikut ini.
Aliksah, di Negeri Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia, hiduplah seorang Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja mempunyai seorang permaisuri yang sedang hamil tua. Suatu ketika, sang Raja pergi berburu binatang ke hutan. Ketika itulah permaisurinya melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan di istana, dan diberinya nama Banta Seudang. Namun, malang nasib bagi sang Raja, karena ia tidak bisa melihat wajah tampan putranya. Kedua matanya buta terkena ranting kayu saat berburu di hutan. Sejak saat itu, ia tidak dapat melaksanakan tugas-tugas kerajaan lagi. Oleh karena Banta Seudang masih bayi, maka tahta kerajaan ia serahkan untuk sementara kepada adik kandungnya. Namun, sang Adik yang baru diangkat menjadi raja itu sangat licik dan serakah. Ia membuatkan sebuah rumah agak jauh dari istana untuk tempat tinggal kakaknya bersama istri dan Banta Seudang. Raja baru itu setiap hari mengirim bantuan makanan untuk kebutuhan sehari-hari sang Kakak bersama keluarganya.
Waktu terus berjalan. Banta Seudang tumbuh menjadi remaja yang tampan. Ia pun mulai bertanya-tanya kepada ibunya tentang siapa yang memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, padahal ayahnya buta.
“Maaf, Ibu! Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada Ibu,” kata Banta.
“Ada apa, Anakku? Katakanlah!” seru sang Ibu.
“Dari mana kita mendapat makanan setiap hari, padahal Ayah tidak pernah bekerja?” tanya Banta ingin tahu.
“Ketahuilah, Anakku! Kebutuhan hidup sehari-hari kita dibantu oleh Pakcikmu yang kini menjadi Raja,” jawab ibunya.
“Pakcik baik hati sekali ya Bu,” kata Banta.
“Iya, Anakku!” jawab sang Ibu sambil tersenyum seraya membelai-belai rambut si Banta.
Pada suatu hari, sang Ibu bersama Banta Seudang pergi menghadap sang Raja. Di hadapan Raja, sang Ibu memohon kepada Raja untuk membantu Banta Seudang agar bisa bersekolah. Namun, permohonan sang Ibu ditolak oleh sang Raja.
“Dasar kalian tidak tahu diri! Dikasih sedepa minta sejengkal pula. Bukankah semua kebutuhan hidup sehari-hari kalian telah aku penuhi!” bentak sang Raja.
Alangkah sedihnya hati sang Ibu mendengar bentakan itu. Ia pun mengajak Banta kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Banta Seudang berusaha menenangkan hati ibunya.
“Sudahlah, Bu! Ibu tidak usah bersedih begitu. Kita seharusnya bersyukur karena Pakcik sudah banyak membantu kita,” bujuk si Banta.
“Banta! Kamu memang Anakku yang baik. Tapi, kamu harus sekolah seperti teman-teman sebayamu,” kata sang Ibu.
Mendengar perkataan itu, si Banta tiba-tiba berpikir bahwa apa yang dikatakan ibunya itu benar. Maka timbullah pikirannya untuk mencari obat mata untuk ayahnya. Jika kelak ayahnya bisa melihat lagi, tentu sang Ayah bisa mencari nafkah sendiri dan dapat membantu biaya sekolahnya.
Pada suatu hari, Banta Seudang menyampaikan niatnya kepada ibunya.
“Bu, Banta ingin pergi mencari obat mata untuk Ayah agar dapat kembali bekerja seperti biasanya dan Banta pun bisa sekolah,” ungkap Banta Seudang.
“Baiklah, Anakku! Ibu merestuimu. Pergilah mencari obat mata untuk Ayahmu. Ibu doakan semoga kamu berhasil,” kata sang Ibu.
Sang Ibu pun menyampaikan maksud Banta tersebut kepada ayah Banta. Dengan senang hati, sang Ayah pun merestui perjalanan Banta mencari obat.
Keesokan harinya, dengan bekal seperlunya, berangkatlah Banta Seudang untuk mencari obat. Ia berjalan seorang diri menyusuri hutan belantara, menyeberangi sungai, menaiki gunung, dan menuruni lembah-lembah. Setelah berbulan-bulan berjalan, ia pun tiba di sebuah hutan rimba yang dipenuhi oleh pohon-pohon besar. Di tengah hutan itu, ia menemukan sebuah balai. Ia pun memutuskan untuk melepas lelah di balai itu. Ketika sedang merebahkan tubuhnya, tiba-tiba hatinya bertanya-tanya.
‘Kenapa ada balai di tengah hutan ini? Wah, pasti ada orang yang tinggal di sekitar sini,” pikirnya dalam hati.
Ternyata benar. Menjelang waktu Ashar, tiba-tiba beberapa orang berjubah putih datang ke balai itu. Mereka lalu melakukan shalat secara berjamaah. Dengan hati bertanya-tanya, Banta hanya diam sambil memerhatikan perilaku orang-orang tersebut. Beberapa saat kemudian, Banta tiba-tiba melihat sebuah peristiwa ajaib. Begitu selesai shalat, orang-orang yang berjubah putih tersebut tiba-tiba menghilang dari pandangan matanya. Rupanya, Banta tidak tahu bahwa mereka itu adalah arwah-arwah para Aulia (Wali) Allah.
Setelah menyaksikan peristiwa itu, Banta kemudian berpikir akan mendekati imamnya ketika para Wali tersebut melaksanakan shalat.
“Jika mereka selesai shalat, aku akan langsung memegang tangan sang Imam agar tidak menghilang,” pikirnya.
Banta Seudang pun tinggal di balai itu menunggu kedatangan para Wali. Ketika waktu shalat Magrib tiba, para Wali tersebut datang untuk melaksanakan shalat. Banta Seudang pun segera duduk di samping imam. Begitu imam selesai shalat, ia langsung memegang tangannya.
“Hai, Anak Muda! Kenapa kamu memegang tanganku?” tanya imam itu.
‘Maaf, Tuan! Saya memegang tangan Tuan supaya tidak menghilang,” jawab Banta.
“Kalau saya boleh bertanya, siapakah Tuan-tuan ini sebenarnya? Kenapa Tuan-tuan bisa tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja?” tanya Banta heran.
“Kami adalah para Aulia Allah,” jawab imam itu.
“Engkau sendiri siapa? Kenapa bisa berada di tempat ini?” imam itu balik bertanya kepada Banta.
“Saya Banta Seudang, Tuan! Saya hendak mencari obat mata untuk Ayah saya,” jawab Banta.
‘Memang kenapa mata Ayahmu?” tanya imam itu.
“Mata ayah saya buta, Tuan! Saya ingin agar mata Ayah saya bisa melihat lagi,” jawab Banta.
“Engkau adalah anak yang berbakti. Baiklah kalau begitu, kamu tunggu di sini saja. Nanti akan datang gajah putih ke balai ini. Ikuti gajah putih itu ke mana pun pergi,” ujar sang Imam dan langsung menghilang.
Betapa senang hati Banta Seudang mendapat petunjuk dari Wali itu. Tidak berapa lama ia menunggu, tiba-tiba datanglah seekor gajah putih ke balai itu. Setelah mendapat isyarat dari gajah itu, Banta pun segera naik ke atas punggung gajah. Sang gajah berjalan menyusuri hutan belantara menuju ke sebuah lembah di mana terdapat sebuah sungai yang sangat jernih airnya. Di pinggir sungai terdapat sebuah pohon besar yang dihuni oleh Jin Pari yang memiliki baju terbang. Melihat kedatangan Banta bersama gajah putih itu, Jin Pari pun segera menyambut mereka.
“Jangan takut, Anak Muda! Aku sudah tahu maksud kedatanganmu kemari. Kamu ingin mencari obat mata untuk Ayahmu bukan?” tanya Jin Pari kepada Banta.
“Benar, Jin Pari!” jawab Banta.
“Baiklah kalau begitu. Aku tahu cara untuk menyembuhkan mata Ayahmu. Di tengah sungai itu, terdapat sebuah bunga ajaib, namanya bunga bangkawali,” ungkap Jin Pari.
“Bagaimana saya bisa mendapatkannya, Jin?” tanya Banta bingung.
Jin Pari pun bercerita kepada Banta Seudang bahwa setiap jumat ada tujuh putri raja dari negeri lain datang ke sungai itu untuk mandi-mandi. Untuk menjaga sungai itu, raja negeri lain menugaskan seorang perempuan tua bernama Mak Toyo. Ia tinggal di sekitar sungai itu. Setiap kali ketujuh putri raja selesai mandi di sungai itu, Mak Toyo turun ke sungai untuk menepuk air tiga kali. Setelah itu bunga ajaib ‘bangkawali’ akan muncul di atas permukaan air. Jadi, bunga bangkawali hanya bisa terlihat pada setiap hari jumat sesuai Mak Toyo menepuk air tiga kali. Untuk mendapatkan bunga ajaib itu harus meminta bantuan kepada Mak Toyo.
Pada suatu malam, Jin Pari bersama Banta Seudang mendatangi tempat tinggal Mak Toyo. Mak Toyo pun bersedia membantu untuk mendapatkan bawangkawali itu, tapi dengan satu syarat.
“Cucuku, jika ingin mendapatkan bunga bangkawali itu, kamu harus mengambilnya sendiri dengan berenang ke tengah sungai itu,” ujar Mak Toyo kepada Banta.
Setelah mendapat penjelasan dari Mak Toyo, Jin Pari dan Banta pun mohon diri. Untuk melaksanakan syarat Mak Toyo, Banta harus menunggu hingga hari jumat. Maka ketika hari jumat tiba, ketujuh putri raja yang cantik-cantik tersebut datang dengan baju terbang mereka hendak mandi di sungai. Usai berganti pakaian, mereka lalu turun ke sungai. Mereka berenang sambil tertawa bersuka ria.
Ketika hari menjelang sore, ketujuh putri raja pun selesai mandi. Mereka pun segera mengenakan baju terbang masing-masing lalu terbang ke angkasa. Mak Toyo pun segera turun ke sungai lalu menepuk air tiga kali. Setelah itu, muncullah bunga bangkawali di atas permukaan air sungai. Banta Seudang pun segera terjun ke dalam sungai. Dengan susah payah, ia berenang ke tengah sungai untuk mengambil bunga bangkawali tersebut. Setelah mendapatkan bunga bangkawali tersebut, Banta Seudang kembali berenang menuju ke tepi sungai.
“Mak Toyo! Aku sudah mendapatkan bunga bangkawali. Terima atas kebaikan, Mak!” ucap Banta Seudang.
“Ya, sama-sama. Segeralah bawa bunga ajaib itu untuk Ayahmu!” kata Mak Toyo.
Keesokan harinya, Banta Seudang berpamitan kepada Mak Toyo dan Jin Pari. Namun karena mengetahui yang akan ditempuh Banta Seudang sangat jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama, maka Maka Toyo dan Jin Pari pun bersepakat untuk mengantar Banta Seudang. Jin Pari dan Banta Seudang terbang dengan menggunakan baju terbang, sedangkan Mak Toyo menunggangg gajah putih. Dalam waktu sehari, mereka pun tiba di negeri Banta Seudang. Mereka tiba ketika hari mulai sudah gelap. Banta Seudang melihat rumahnya sepi dan tampak gelap.
“Ayah, Ibu! Banta pulang membawa obat mata untuk Ayah!” teriak Banta Seudang memanggil kedua orangtuanya.
“Ya, masuklah Anakku! Ibu sedang sibuk memperbaiki lampu minyak,” teriak sang Ibu.
Banta Seudang pun masuk ke dalam rumah bersama Mak Toyo dan Jin Pari.
“Kenapa gelap begini? Kenapa dengan lampu minyaknya, Bu?” tanya Banta.
“Lampunya kehabisan minyak. Ibu baru mengisinya,” jawab sang Ibu.
Beberapa saat kemudian, lampu minyaknya pun menyala. Sang Ibu segera memeluk Banta Seudang karena sudah lama sekali merindukannya. Banta Seudang pun memperkenalkan Mak Toyo dan Jin Pari kepada kedua orangtuanya.
“Bu, ini Mak Toyo dan Jin Pari. Merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan obat mata untuk Ayah,” jelas Banta Seudang.
Ibu Banta Seudang pun tidak lupa berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari yang telah membantu Banta Seudang.
“Bagaimana keadaan Ayah dan Ibu selama Banta pergi?” Banta Seudang kembali bertanya.
Mendengar pertanyaan Banta, sang Ibu terdiam sejenak. Dengan wajah sedih, sang Ibu kemudian bercerita bahwa selama kepergian Banta Seudang, Pakciknya tidak pernah membantu mereka lagi. Terpaksalah sang Ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka. Betapa sedih dan terharunya Banta Seudang mendengar cerita sang Ibu.
“Iya, Anakku! Pakcikmu memang sungguh keterlaluan dan tidak tahu diri. Sejak kamu pergi, dia tidak pernah lagi memberi kami makanan. Seandainya Ayah tidak buta begini, Ayah pasti sudah menghajarnya,” sahut sang Ayah dengan geram.
“Sabarlah, Ayah! Banta membawakan obat mata untuk Ayah,” kata Banta menenangkan hati sang Ayah.
Setelah keadaan tenang, Banta Seudang segera mengambil semangkuk air, lalu mencelupkan bunga bangkawali yang ia bawa ke dalam mangkuk. Setelah beberapa saat, ia mengusapkan air dari mangkuk itu ke mata ayahnya hingga tiga kali.
“Ayah! Cobalah buka mata Ayah pelan-pelan!” pinta Banta Seudang.
Sang Ayah pun pelan-pelan membuka matanya. Sungguh ajaib, matanya dapat melihat seketika. Alangkah bahagianya sang Ayah dapat melihat wajah putranya.
“Sejak kamu dilahirkan, barulah kali ini Ayah bisa melihat wajahmu, Anakku! Ayah sangat bangga padamu. Berkat usaha dan perjuanganmu, mata Ayah dapat melihat kembali seperti semula,” ucap sang Ayah seraya merangkul Banta Seudang.
“Seharusnya, Ayah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, karena merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan bunga bangkawali itu,” kata Banta Seudang.
Setelah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, sang Ayah pun berniat untuk merebut kembali kekuasaannya dari tangan adiknya.
“Ketahuilah, Anakku! Sebenarnya, Ayah adalah Raja negeri ini. Sejak mata Ayah buta akibat terkena ranting kayu ketika berburu di hutan, kerajaan Ayah serahkan kepada Pakcikmu. Namun, ketika menjadi Raja, Pakcikmu telah lupa diri dan mencampakkan kita,” ungkap sang Ayah.
Betapa terkejutnya Banta Seudang mendengar penjelasan ayahnya. Ia baru mengerti bahwa ternyata ayahnya adalah seorang raja. Selama ini ia mengira bahwa pakciknya adalah seorang raja yang baik, karena telah memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, ternyata pakciknya adalah seorang raja yang licik dan serakah. Mengetahui keadaan yang sebenarnya, Bangka Seudang pun berniat untuk membantu ayahnya untuk mengembalikan tahta kerajaan kepada ayahnya. Demikian pula Mak Toyo dan Jin Pari, setelah mendengar cerita ayah Banta Seudang, mereka pun siap untuk membantu.
Keesokan harinya, mereka pun berangkat ke istana. Ayah dan ibu Banta Seudang terbang bersama Jin Pari dengan menggunakan baju terbang. Sedangkan Banta Seudang dan Mak Toyo menunggang gajah putih. Sesampainya di istana, alangkah terkejutnya sang Raja saat melihat kedatangan sang Kakak bersama rombongannya. Apalagi setelah mengetahui kedua mata kakaknya dapat melihat kembali.
“Apa maksud kedatangan Kakak kemari?” tanya sang Raja.
“Hai, Adik! Engkau memang Adikku yang tidak tahu diri. Kakak berikan tahta kerajaan ini untuk sementara, tapi Engkau malah mencampakkan Kakak bersama permaisuri dan putraku selama bertahun-tahun. Kini saatnya Kakak harus mengambil kembali tahta kerajaan ini!” seru sang Kakak.
“Ha... ha... ha...! Akulah penguasa negeri ini. Tidak akan ada yang bisa menggantikanku sebagai Raja. Aku memiliki banyak pengawal dan prajurit. Tapi, kalau Kakak berani merebut kembali tahta ini, hadapi dulu para pengawal dan prajuritku!” seru sang Raja sambil tertawa terbahak-bahak dengan angkuhnya.
Mak Toyo dan Jin Pari yang juga hadir di tempat itu sangat geram melihat keangkuhan sang Raja. Oleh karena mereka mengetahui permasalahan yang sebenarnya, maka tanpa diperintah ayah Banta Seudang, mereka langsung menyerang sang Raja. Dengan satu pukulan saja, sang Raja pun jatuh tersungkur tidak sadarkan diri di depan singgasananya. Para pengawal raja yang melihat peristiwa itu, tak seorang pun yang mau membantu sang Raja, karena mereka juga mengetahui keadaan sebenarnya.
Ketika sadarkan diri, sang Raja bersama keluarganya diusir dari istana. Ayah Banta Seudang pun kembali menjadi raja menggantikan adiknya yang serakah dan angkuh itu. Akhirnya, Banta Seudang bersama keluarganya kembali tinggal di istana dan ia pun bisa bersekolah. Sementara Mak Toyo dan Jin Pari diangkat sebagai pengawal istana.
* * *
Demikian cerita Banta Seudang dari Daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu keutamaan sifat berbakti kepada orangtua, ganjaran yang diperoleh dari suka bekerja keras dan akibat buruk dari sifat tidak tahu diri.
Pertama, keutamaan sifat berbakti kepada orangtua. Sifat ini ditunjukkan oleh sifat dan perilaku Banta Seudang yang telah berusaha menyembuhkan mata ayahnya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
apa tanda Melayu jati,
kepada ibu bapa ia berbakti
apa tanda Melayu menakah,
memelihara ibu bapa tahan bersusah
Kedua, ganjaran yang diperoleh dari suka bekerja keras. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Banta Seudang. Berkat kerja keras dan kesungguhannya, ia berhasil menyembuhkan mata ayahnya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
wahai ananda kesayangan ayah,
bekerja jangan ingatkan susah
tahankan olehmu penat dan lelah
supaya kelak hidupmu menakah
Ketiga, akibat buruk dari sifat tidak tahu diri. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Pakcik Banta Seudang. Ia diberi kekuasaan untuk menduduki tahta kerajaan, malah justru mengabaikan kakaknya. Akibatnya, ia pun diusir dari istana ketika mata kakaknya sembuh dari kebutaan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:[1]
apa tanda orang celaka,
tak tahu diri besar kepala
bila bercakap mengada-ada
bila bekerja tidak menyudah
apa tanda orang terbuang,
tak tahu diri iman pun kurang
bergaul tidak tahu menenggang
berjalan seiring ia menendang
Label:
nanggroe aceh darusalam
Lokasi:
Aceh, Indonesia
Radiasi Akibat Badai Matahari Aman bagi Manusia
jakarta - Badai Matahari yang berlangsung pada Selasa, 24 Januari 2012, pukul 10.59 WB adalah yang terkuat sejak tahun 2005. Meski para astronom mengkategorikan dalam kelas M-9 alias sudah masuk kategori kelas tertinggi atau ekstrem, dampaknya tak perlu dikhawatirkan. Radiasi badai matahari itu tidak merusak tubuh, tapi hanya mengganggu satelit.
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang melakukan pemantauan merilis pernyataan dalam webnya bahwa radiasi badai matahari hanya mengganggu telekomunikasi seluler, siaran televisi, jika lontaran partikel listrik itu mengganggu satelit. Amuk matahari tidak mengganggu penduduk Bumi. "Hanya gangguan operasional satelit dan propagasi radio gelombang pendek, tapi tidak mengganggu manusia di Bumi," begitu bunyi pernyataan NASA di situsnya.
Sejauh ini banyak orang khawatir dengan bahaya radiasi matahari setelah badai matahari 2012 yang berlangsung Selasa kemarin. Sejumlah orang khawatir karena beredar pesan via sms dan BlackBerry bahwa radiasi bisa merusak kulit dan radiasi di telepon seluler.
Sebelumnya Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) membantah isu yang menyebutkan badai matahari merusak telepon seluler jika dipakai menelepon. Bumi memiliki dua tameng tak kasatmata yang melindungi penduduknya dari partikel badai matahari. "Manusia di Bumi dan perangkat teknologi yang digunakannya aman dari dampak badai matahari," kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lapan, Thomas Djamaluddin, dalam penjelasannya, Rabu 25 Januari 2012.
Menurut Thomas, lapisan magnetosfer merupakan selubung tak kasatmata yang dibentuk oleh medan magnet Bumi. Magnetosfer ini mengelilingi Bumi pada jarak 95 ribu kilometer di atas permukaan Bumi. Sejak awal terbentuknya Bumi, lapisan ini menjadi pelindung semua makhluk dari serangan partikel berbahaya, termasuk badai matahari.
Magnetosfer bekerja seperti tameng, membelokkan setiap partikel yang menghampirinya. Badai matahari sendiri nantinya akan dibelokkan ke arah kutub Bumi. Di sini tameng kedua menunggu untuk "menghancurkan" badai kiriman matahari.
Tameng kedua tersebut adalah lapisan atmosfer yang terdapat pada ketinggian 80 kilometer di atas Bumi. Di daerah ini badai matahari akan disaring oleh medan magnet Bumi yang rapat di sekitar kutub. Akibatnya, badai yang semula berbahaya melepaskan energinya melalui cahaya berbagai warna atau dikenal sebagai aurora.
Hal ini sekaligus menjelaskan kenapa aurora sering terlihat di sekitar Kutub Utara dan Kutub Selatan. Manusia telah lama bersahabat dengan cahaya indah ini. Bahkan suku eskimo yang menempati daerah di sekitar Kutub Utara menganggap aurora sebagai arwah leluhur mereka yang bersemayam di langit.
Thomas mengatakan perlindungan oleh dua tameng ini membuat perangkat telepon aman dipakai selama badai matahari menghantam Bumi. "Betapapun kuatnya badai, penduduk Bumi selalu terlindung," ujar dia.
Thursday, March 8, 2012
cerita rakyat asli dari indonesia
asal usul nama buleleng dan singaraja
Di Bali, hidup seorang raja yang bergelar Sri Bagening. Sang Raja memiliki banyak istri, dan istri terakhirnya bernama Ni Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji, dan masih keturunan Kyai Pasek Gobleng. Suatu waktu, Ni Luh Pasek mengandung. Oleh suaminya, ia dititipkan kepada Kyai Jelantik Bogol. Tak berapa lama, anaknya pun lahir. Anak itu diberi nama I Gede Pasekan. I Gede Pasekan mempunyai wibawa besar sehingga sangat dicintai dan dihormati oleh pemuka masyarakat maupun masyarakat biasa.
Suatu hari, ketika usianya menginjak dua puluh tahun, ayahnya berkata padanya, “Anakku, sekarang pergilah engkau ke Den Bukit di daerah Panji.”
“Mengapa ayah?”
“Karena di sanalah tempat kelahiran ibumu.”
Sebelum berangkat, ayah angkatnya memberikan dua buah senjata bertuah, yaitu sebilah keris bernama Ki Baru Semang dan sebatang tombak bernama KiTunjung Tutur. Dalam perjalanannya, I Gede Pasekan diiringi oleh empat puluh pengawal yang dipimpin Ki Dumpiung dan Ki Dosot. Ketika sampai di daerah yang disebut Batu Menyan, mereka bermalam dengan dijaga ketat oleh para pengawal secara bergantian.
Saat tengah malam, tiba-tiba datang makhluk ajaib penghuni hutan. Dia mengangkat I Gede Pasekan ke atas pundaknya sehingga I Gede Pasekan dapat melihat pemandangan lepas ke lautan dan daratan yang terbentang di hadapannya. Ketika dia memandang ke arah timur dan barat laut, ia melihat pulau yang amat jauh. Ketika melihat ke arah selatan pemandangannya dihalangi oleh gunung. Setelah makhluk itu pergi kemudian terdengar bisikan.
“I Gusti, sesungguhnya apa yang telah engkau lihat akan menjadi daerah kekuasaanmu.”
Keesokan harinya rombongan itu melanjutkan perjalanan. Meski sulit dan penuh rintangan akhirnya rombongan I Gede Pasekan berhasil mencapai tujuan, yaitu Desa Panji, tempat kelahiran ibunya.
Suatu hari, ada sebuah perahu Bugis yang terdampar di pantai Panimbangan.Warga setempat yang dimintai tolong tak mampu mengangkatnya.
Keesokan harinya orang Bugis pemilik perahu itu meminta tolong pada I Gede Pasekan.
“Tolonglah kami, Tuan. Jika Tuan berhasil mengangkat perahu kami, sebagian muatan itu akan kami serahkan kepada Tuan sebagai upahnya.”
“Kalau itu keinginan kalian, saya akan berusaha mengangkat perahu itu,” jawab I Gede Pasekan.
I Gede Pasekan segera memusatkan pikiran. Dengan kekuatan gaibnya, perahu yang kandas itu berhasil diangkatnya. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, orang Bugis itu memberikan hadiah berupa setengah dari isi perahu itu kepada I Gede Pasekan. Di antara hadiah itu terdapat dua buah gong besar. Sejak saat itu I Gede Pasekan menjadi orang kaya dan bergelar I Gusti Panji Sakti.
Kekuasaan I Gede Pasekan mulai meluas dan menyebar sampai ke mana-mana. Dia pun mendirikan kerajan baru di Den Bukit. Kira-kira abad ke-17, ibukota kerajaan itu disebut orang dengan nama Sukasada. Kerajaaan I Gede Pasekan itu berkembang hingga ke utara. Daerah itu banyak ditumbuhi pohon buleleng. Oleh karena itu, pusat kerajaan beralih ke wilayah itu. Wilayah itu pun diberi nama Buleleng.
Di Buleleng dibangun sebuah istana megah yang diberi nama Singaraja. Nama ini menunjukkan bahwa penghuninya adalah seorang raja yang gagah perkasa laksana singa. Namun, ada pendapat yang mengatakan bahwa nama Singaraja artinya tempat persinggahan raja. Barangkali ketika sang Raja masih di Sukasada, sering singgah di sana. Jadi, kata Singaraja berasal dari kata singgah raja.
penulis : I made gowinda jaya sapta
tujuh anak lelaki
Tujuh anak lelaki dalam cerita ini adalah tujuh orang bersaudara yang dilahirkan oleh sepasang suami-istri di sebuah kampung di daerah Nanggro Aceh Darussalam, Indonesia. Ketujuh anak lelaki tersebut sungguh bernasib malang. Ketika masih kecil, mereka dibuang oleh kedua orangtua mereka ke tengah hutan jauh dari perkampungan. Mengapa ketujuh anak lelaki itu dibuang oleh kedua orangtua mereka? Lalu, bagaimana nasib mereka selanjutnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Tujuh Anak Lelaki berikut ini!
Alkisah, di sebuah kampung di daerah Nanggro Aceh Darussalam, ada sepasang suami-istri yang mempunyai tujuh orang anak laki-laki yang masih kecil. Anak yang paling tua berumur sepuluh tahun, sedangkan yang paling bungsu berumur dua tahun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sepasang suami-istri itu menanam sayur-sayuran untuk dimakan sehari-hari dan sisanya dijual ke pasar. Meskipun serba pas-pasan, kehidupan mereka senantiasa rukun, damai, dan tenteram.
Pada suatu waktu, kampung mereka dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Semua tumbuhan mati karena kekeringan. Penduduk kampung pun mulai kekurangan makanan. Persediaan makanan mereka semakin hari semakin menipis, sementara musim kemarau tak kunjung usai. Akhirnya, seluruh penduduk kampung menderita kelaparan, termasuk keluarga sepasang suami-istri bersama tujuh orang anaknya itu.
Melihat keadaan tersebut, sepasang suami-istri tersebut menjadi panik. Tanaman sayuran yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka tidak lagi tumbuh. Sementara mereka tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali menanam sayur-sayuran di kebun. Mereka sudah berpikir keras mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut, namun tidak menemukan jawabannya. Akhirnya, mereka bersepakat hendak membuang ketujuh anak mereka ke sebuah hutan yang letaknya jauh dari perkampungan.
Pada suatu malam, saat ketujuh anaknya sedang tertidur pulas, keduanya bermusyawarah untuk mencari cara membuang ketujuh anak mereka.
“Bang! Bagaimana caranya agar tidak ketahuan anak-anak?” tanya sang Istri bingung.
“Besok pagi anak-anak kita ajak pergi mencari kayu bakar ke sebuah hutan yang letaknya cukup jauh. Pada saat mereka beristirahat makan siang, kita berpura-pura mencari air minum di sungai,” jelas sang Suami.
“Baik, Bang!” sahut sang Istri sepakat.
Tanpa mereka sadari, rupanya anak ketiga mereka yang pada waktu itu belum tidur mendengar semua pembicaraan mereka.
Keesokan harinya, sepasang suami-istri itu mengajak ketujuh putranya ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sesampainya di hutan yang terdekat, sang Ayah berkata kepada mereka:
“Anak-anakku semua! Sebaiknya kita cari hutan yang luas dan banyak pohonnya, supaya kita bisa mendapatkan kayu bakar yang lebih banyak lagi,” ujar sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab ketujuh anak lelaki itu serentak.
Setelah berjalan jauh, sampailah mereka di sebuah hutan yang amat luas. Alangkah gembiranya mereka, karena di hutan itu terdapat banyak kayu bakar. Mereka pun segera mengumpulkan kayu bakar yang banyak berserakan. Ketika hari menjelang siang, sang Ibu pun mengajak ketujuh anaknya untuk beristirahat melepas lelah setelah hampir setengah hari bekerja.
Pada saat itulah, sepasang suami istri itu hendak mulai menjalankan recananya ingin meninggalkan ketujuh anak mereka di tengah hutan itu.
“Wahai anak-anakku! Kalian semua beristirahatlah di sini dulu. Aku dan ibu kalian ingin mencari sungai di sekitar hutan ini, karena persediaan air minum kita sudah habis,” ujar sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab ketujuh anak itu serentak.
“Jangan lama-lama ya, Ayah... Ibu...!’” sahut si Bungsu.
“Iya, Anakku!” jawab sang Ibu lalu pergi mengikuti suaminya.
Sementara itu, setelah menunggu beberapa lama dan kedua orangtua mereka belum juga kembali, ketujuh anak itu mulai gelisah. Mereka cemas kalau-kalau kedua orangtua mereka mendapat musibah. Akhirnya, si sulung pun mengajak keenam adiknya untuk pergi menyusul kedua orangtua mereka. Namun, sebelum meninggalkan tempat itu, anak ketiga tiba-tiba angkat bicara.
“Abang! Tidak ada gunanya kita menyusul ayah dan ibu. Mereka sudah pergi meninggalkan kita semua,” kata anak ketiga.
“Apa maksudmu, Dik?” tanya si Sulung.
“Tadi malam, saat kalian sudah tertidur nyenyak, aku mendengar pembicaraan ayah dan ibu. Mereka sengaja meninggalkan kita di tengah hutan ini, karena mereka sudah tidak sanggup lagi menghidupi kita semua akibat kemarau panjang,” jelas anak ketiga.
“Kenapa hal ini baru kamu ceritakan kepada kami?” tanya anak kedua.
“Aku takut ayah dan ibu murka kepadaku, Bang,” jawab anak ketiga.
Akhirnya ketujuh anak itu tidak jadi pergi menyusul kedua orangtuanya, apalagi hari sudah mulai gelap. Mereka pun segera mencari tempat perlindungan dari udara malam. Untungnya, tidak jauh dari tempat mereka berada, ada sebuah pohon besar yang batangnya berlubang seperti gua. Mereka pun beristirahat dan tidur di dalam lubang kayu itu hingga pagi hari.
“Bang! Apa yang harus kita lakukan sekarang? Ke mana kita harus pergi?” tanya si anak kedua.
“Kalian tunggu di sini! Aku akan memanjat sebuah pohon yang tinggi. Barangkali dari atas pohon itu aku dapat melihat kepulan asap. Jika ada, itu pertanda bahwa di sana ada perkampungan,” kata si Sulung.
Ternyata benar, ketika berada di atas pohon, si Sulung melihat ada kepulan asap dari kejauhan. Ia pun segera turun dari pohon dan mengajak keenam adiknya menuju ke arah kepulan asap tersebut. Setelah berjalan jauh, akhirnya sampailah mereka di sebuah perkampungan. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat sebuah rumah yang sangat besar berdiri tegak di pinggir kampung.
“Hei lihatlah! Besar sekali rumah itu,” seru anak keempat.
“Waaahhh... jangan-jangan itu rumah raksasa,” sahut anak keenam.
Baru saja kata-kata itu terlepas dari mulutnya, tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam rumah itu meminta mereka masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, penghuni rumah itu pun keluar. Rupanya, dia adalah raksasa betina.
“Hei, anak manusia! Kalian siapa?” tanya Raksasa Betina itu.
“Kami tersesat, Tuan Raksasa! Orang tua kami meninggalkan kami di tengah hutan,” jawab si Sulung.
Mendengar keterangan itu, tiba-tiba si Raksasa Betina merasa iba kepada mereka. Ia pun segera mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya, lalu menghidangkan makanan dan minuman kepada mereka. Oleh karena sudah kelaparan, ketujuh anak itu menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.
“Habiskan cepat makanan itu, lalu naik ke atas loteng! Kalau tidak, kalian akan dimakan oleh suamiku. Tidak lama lagi ia datang dari berburu,” ujar Raksasa Betina.
Oleh karena takut dimakan oleh Raksasa Jantan, mereka pun segera menghabiskan makanannya lalu bergegas naik ke atas loteng untuk bersembunyi. Tidak lama kemudian, Raksasa Jantan pun pulang dari berburu. Ketika membuka pintu rumahnya, tiba-tiba ia mencium bau makanan enak.
“Waaahhh... sedapnya!” ucap raksasa jantan sambil menghirup bau sedap itu.
“Bu! Sepertinya ada makanan enak di rumah ini. Aku mencium bau manusia. Di mana kamu simpan mereka?” tanya Raksasa Jantan kepada istrinya.
“Aku menyimpan mereka di atas loteng. Tapi mereka masih kecil-kecil. Biarlah kita tunggu mereka sampai agak besar supaya enak dimakan,” jawab Raksasa Betina.
Si Raksasa Jantan pun menuruti perkataan istrinya. Selamatlah ketujuh anak itu dari ancaman Raksasa Jantan. Keesokan harinya, ketika si Raksasa Jantan kembali berburu binatang ke hutan, si Raksasa Betina pun segera menyuruh ketujuh anak lelaki itu pergi. Namun, sebelum mereka pergi, ia membekali mereka makanan seperlunya selama dalam perjalanan. Bahkan, si Raksasa Betina yang baik itu membekali mereka dengan emas dan intan.
“Bawalah emas dan intan ini, semoga bermanfaat untuk masa depan kalian,” kata Raksasa Betina.
“Terima kasih, Raksasa Jantan! Tuan memang raksasa yang baik hati,” ucap si Sulung seraya berpamitan.
Setelah berjalan jauh menyusuri hutan lebat, menaiki dan menuruni gunung, akhirnya tibalah mereka di tepi pantai. Mereka pun segera membuat perahu kecil lalu berlayar mengarungi lautan luas. Setelah beberapa lama berlayar, tibalah mereka di sebuah negeri yang diperintah oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Di negeri itu mereka menjual semua emas dan intan pemberian raksasa kepada seorang saudagar kaya. Hasil penjualan tersebut, mereka gunakan untuk membeli tanah perkebunan. Masing-masing mendapat tanah perkebunan yang cukup luas. Ketujuh bersaudara itu sangat rajin bekerja dan senantiasa saling membantu.
Ternyata benar, ketika berada di atas pohon, si Sulung melihat ada kepulan asap dari kejauhan. Ia pun segera turun dari pohon dan mengajak keenam adiknya menuju ke arah kepulan asap tersebut. Setelah berjalan jauh, akhirnya sampailah mereka di sebuah perkampungan. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat sebuah rumah yang sangat besar berdiri tegak di pinggir kampung.
“Hei lihatlah! Besar sekali rumah itu,” seru anak keempat.
“Waaahhh... jangan-jangan itu rumah raksasa,” sahut anak keenam.
Baru saja kata-kata itu terlepas dari mulutnya, tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam rumah itu meminta mereka masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, penghuni rumah itu pun keluar. Rupanya, dia adalah raksasa betina.
“Hei, anak manusia! Kalian siapa?” tanya Raksasa Betina itu.
“Kami tersesat, Tuan Raksasa! Orang tua kami meninggalkan kami di tengah hutan,” jawab si Sulung.
Mendengar keterangan itu, tiba-tiba si Raksasa Betina merasa iba kepada mereka. Ia pun segera mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya, lalu menghidangkan makanan dan minuman kepada mereka. Oleh karena sudah kelaparan, ketujuh anak itu menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.
“Habiskan cepat makanan itu, lalu naik ke atas loteng! Kalau tidak, kalian akan dimakan oleh suamiku. Tidak lama lagi ia datang dari berburu,” ujar Raksasa Betina.
Oleh karena takut dimakan oleh Raksasa Jantan, mereka pun segera menghabiskan makanannya lalu bergegas naik ke atas loteng untuk bersembunyi. Tidak lama kemudian, Raksasa Jantan pun pulang dari berburu. Ketika membuka pintu rumahnya, tiba-tiba ia mencium bau makanan enak.
“Waaahhh... sedapnya!” ucap raksasa jantan sambil menghirup bau sedap itu.
“Bu! Sepertinya ada makanan enak di rumah ini. Aku mencium bau manusia. Di mana kamu simpan mereka?” tanya Raksasa Jantan kepada istrinya.
“Aku menyimpan mereka di atas loteng. Tapi mereka masih kecil-kecil. Biarlah kita tunggu mereka sampai agak besar supaya enak dimakan,” jawab Raksasa Betina.
Si Raksasa Jantan pun menuruti perkataan istrinya. Selamatlah ketujuh anak itu dari ancaman Raksasa Jantan. Keesokan harinya, ketika si Raksasa Jantan kembali berburu binatang ke hutan, si Raksasa Betina pun segera menyuruh ketujuh anak lelaki itu pergi. Namun, sebelum mereka pergi, ia membekali mereka makanan seperlunya selama dalam perjalanan. Bahkan, si Raksasa Betina yang baik itu membekali mereka dengan emas dan intan.
“Bawalah emas dan intan ini, semoga bermanfaat untuk masa depan kalian,” kata Raksasa Betina.
“Terima kasih, Raksasa Jantan! Tuan memang raksasa yang baik hati,” ucap si Sulung seraya berpamitan.
Setelah berjalan jauh menyusuri hutan lebat, menaiki dan menuruni gunung, akhirnya tibalah mereka di tepi pantai. Mereka pun segera membuat perahu kecil lalu berlayar mengarungi lautan luas. Setelah beberapa lama berlayar, tibalah mereka di sebuah negeri yang diperintah oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Di negeri itu mereka menjual semua emas dan intan pemberian raksasa kepada seorang saudagar kaya. Hasil penjualan tersebut, mereka gunakan untuk membeli tanah perkebunan. Masing-masing mendapat tanah perkebunan yang cukup luas. Ketujuh bersaudara itu sangat rajin bekerja dan senantiasa saling membantu.
Beberapa tahun kemudian, mereka pun telah dewasa. Berkat kerja keras selama bertahun-tahun, akhirnya mereka memiliki harta kekayaan yang banyak. Kemudian masing-masing dari mereka membuat rumah yang cukup bagus. Ketujuh lelaki itu pun hidup damai, tenteram dan sejahtera.
Pada suatu hari, si Bungsu tiba-tiba teringat dan merindukan kedua orangtuanya. Ia pun segera mengundang keenam kakaknya datang ke rumahnya untuk bersama-sama pergi mencari kedua orangtua mereka.
“Maafkan aku, Kakakku semua! Aku mengundang kalian ke sini, karena ingin mengajak kalian untuk pergi mencari ayah dan ibu. Aku sangat merindukan mereka, dan aku yakin, mereka pasti masih hidup,” ungkap si Bungsu kepada saudara-saudaranya.
“Iya, Adikku! Kami juga merasakannya seperti itu. Kami sangat rindu kepada ayah dan ibu yang telah melahirkan kita semua,” tambah anak keenam.
“Baiklah kalau begitu! Besok pagi kita bersama-sama pergi mencari mereka. Apakah kalian setuju?” tanya si Sulung.
“Setuju!” jawab keenam adiknya serentak.
Keesokan harinya, berangkatlah ketujuh orang bersaudara itu mencari kedua orangtua mereka. Setelah berlayar mengarungi lautan luas, tibalah mereka di sebuah pulau. Di pulau itu, mereka berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Sudah puluhan kampung mereka datangi, namun belum juga menemukannya. Hingga pada suatu hari, mereka pun menemukan kedua orangtua mereka di sebuah kampung dalam keadaan menderita. Ketujuh orang bersaudara itu sangat sedih melihat kondisi kedua orangtua mereka. Akhirnya, mereka membawa orangtua mereka ke tempat tinggal mereka untuk hidup dan tinggal bersama di rumah yang bagus.
Sejak itu, kedua orangtua itu berkumpul kembali dan hidup bersama dengan ketujuh orang anaknya. Mereka senantiasa menyibukkan diri beribadah kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Segala keperluannya sudah dipenuhi oleh ketujuh orang anaknya yang sudah cukup kaya.
Demikian cerita Tujuh Anak Laki-Laki dari daerah Provinsi Nanggro Aceh Darussalam, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah keutamaan sifat mandiri. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku ketujuh anak laki-laki tersebut. Mereka senantiasa bekerja keras, menggarap lahan perkebunan mereka, sehingga mendapatkan hasil yang melimpah dan menjadi orang yang kaya di kampungnya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
wahai ananda dengarlah manat,
tunjuk dan ajar hendaklah ingat
bulatkan hati teguhkan semangat
supaya hidupmu beroleh rahmat
Pelajaran lain yang dapat dipetik adalah keutamaan sifat pandai membalas budi. Hal ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku ketujuh anak laki-laki tersebut. Meskipun kedua orangtua mereka telah membuangnya ke tengah hutan, mereka tidak pernah berputus asa untuk mencari orangtua yang telah melahirkan mereka.
wahai ananda dengarlah manat,
tunjuk dan ajar hendaklah ingat
bulatkan hati teguhkan semangat
supaya hidupmu beroleh rahmat
Pelajaran lain yang dapat dipetik adalah keutamaan sifat pandai membalas budi. Hal ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku ketujuh anak laki-laki tersebut. Meskipun kedua orangtua mereka telah membuangnya ke tengah hutan, mereka tidak pernah berputus asa untuk mencari orangtua yang telah melahirkan mereka.
Wednesday, March 7, 2012
Malin Kundang (English Version)
Long time ago, in a small village near the beach in West Sumatera, lived a woman and her son, Malin Kundang. Malin Kundang's father had passed away when he was a baby, and he had to live hard with his mother.
Malin Kundang was a healthy, dilligent, and strong child. He usually went to the sea to catch fish, and brought it to his mother, or sold it in the town.
One day, when Malin Kundang was sailing as usual, he saw a merchant's ship which was being raided by a small band of pirates. With his brave and power, Malin Kundang defeated the pirates. The merchant was so happy and asked Malin Kundang to sail with him. Malin Kundang agreed.
Many years later, Malin Kundang became a wealthty merchant, with a huge ship, loads of trading goods, many ship crews, and a beautiful wife. In his journey, his ship landed on a beach. The villagers reconigzed him, and the news ran fast in the town: Malin Kundang became a rich man and now he is here. His mother, in deepful sadnees after years of loneliness, ran to the beach to meet her beloved son again.
When the mother came, Malin Kundang, in front of his well dressed wife, his crews and his own gloriness, denied to meet that old, poor and dirty woman. For three times she begged Malin Kundang and for three times yelled at him. At last Malin Kundang said to her "Enough, old woman! I have never had a mother like you, a dirty and ugly peasant!" Then he ordered his crews to set sail.
Enraged, she cursed Malin Kundang that he would turn into a stone if he didn't apologize. Malin Kundang just laughed and set sail.
In the quiet sea, suddenly a thunderstorm came. His huge ship was wrecked and it was too late for Malin Kundang to apologized. He was thrown by the wave out of his ship, fell on a small island, and suddenly turned into stone.

Subscribe to:
Posts (Atom)
